Isuzu Jadi Satu-satunya Produsen Mobil Komersial Ber-TKDN

Isuzu Jadi Satu-satunya Produsen Kendaraan Komersial yang Seluruh Produknya Ber-TKDN

PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) mencatatkan dua pencapaian penting bagi industri otomotif nasional. Selain merayakan produksi ke-300.000 unit di Isuzu Karawang Plant, perusahaan juga mendapat pengakuan dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sebagai satu-satunya produsen kendaraan komersial di Indonesia yang seluruh lini produknya telah memiliki sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Baca Juga “Ekspansi Agresif, Lini Produksi BYD Brasil Tembus 100 Ribu Unit

Pengakuan tersebut disampaikan dalam seremoni yang berlangsung di Karawang, Jawa Barat, Senin. Capaian itu dinilai menjadi bukti konsistensi Isuzu dalam meningkatkan penggunaan komponen lokal sekaligus memperkuat daya saing industri manufaktur otomotif Indonesia.

Dalam satu dekade sejak mulai beroperasi pada 2015, Isuzu Karawang Plant tidak hanya menjadi pusat produksi kendaraan komersial untuk pasar domestik, tetapi juga berkembang sebagai basis ekspor ke berbagai negara. Kombinasi peningkatan kapasitas produksi dan tingginya kandungan lokal menjadi modal penting bagi perusahaan untuk memperluas kontribusinya terhadap industri nasional.

Kemenperin: Seluruh Produk Kendaraan Komersial Isuzu Sudah Bersertifikat TKDN

Kepala Pusat Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri Kemenperin, Kris Sasono Ngudi Wibowo, mengatakan PT Isuzu Astra Motor Indonesia menjadi satu-satunya perusahaan yang memproduksi kendaraan komersial dengan seluruh produknya telah mengantongi sertifikat TKDN.

Menurut Kris, status tersebut menunjukkan komitmen perusahaan dalam memenuhi kebijakan pemerintah untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri. Kebijakan itu menjadi salah satu strategi pemerintah dalam memperkuat struktur industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap komponen impor.

“Hari ini tercatat Isuzu mempunyai 33 sertifikat TKDN dengan rentang yang cukup tinggi. Nilai TKDN ditambah Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) tertinggi sudah mencapai lebih dari 62 persen. Ini merupakan capaian yang luar biasa dan menjadikan Isuzu sebagai salah satu pionir industri otomotif dalam meningkatkan penggunaan produk dalam negeri,” ujar Kris.

Ia menambahkan, pencapaian tersebut tidak hanya mencerminkan besarnya kandungan lokal pada kendaraan yang diproduksi Isuzu. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut memperlihatkan keberhasilan perusahaan membangun ekosistem industri yang melibatkan banyak pemasok komponen lokal.

Semakin tinggi nilai TKDN sebuah kendaraan, semakin besar pula kontribusi industri dalam negeri terhadap proses produksinya. Hal itu mencakup penggunaan material lokal, komponen buatan Indonesia, hingga keterlibatan tenaga kerja dan aktivitas manufaktur di dalam negeri.

Kepemilikan 33 Sertifikat TKDN Perkuat Posisi Isuzu di Industri Nasional

Kemenperin mencatat Isuzu saat ini telah memiliki 33 sertifikat TKDN untuk berbagai model kendaraan komersial yang diproduksi di Indonesia. Jumlah tersebut menjadi salah satu yang terbanyak di segmen kendaraan niaga.

Sertifikasi TKDN merupakan bukti bahwa suatu produk telah memenuhi persentase kandungan lokal sesuai ketentuan pemerintah. Nilai tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam mendukung program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah terus mendorong produsen otomotif meningkatkan kandungan lokal agar industri komponen nasional berkembang lebih cepat. Kebijakan tersebut juga bertujuan memperkuat rantai pasok domestik sehingga industri otomotif nasional menjadi lebih mandiri.

Bagi Isuzu, kepemilikan sertifikat TKDN di seluruh lini produk memberikan nilai tambah, terutama dalam memenuhi kebutuhan berbagai sektor usaha yang mengutamakan penggunaan produk dengan kandungan lokal tinggi.

Aturan Baru TKDN Berpotensi Meningkatkan Nilai Kandungan Lokal Isuzu

Selain mengapresiasi capaian Isuzu, Kemenperin juga mengungkapkan adanya perubahan regulasi yang berpotensi meningkatkan nilai TKDN perusahaan pada masa mendatang.

Saat ini, perhitungan TKDN telah mengacu pada Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 35 Tahun 2025 yang menggantikan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 16 Tahun 2011. Regulasi baru tersebut menghadirkan mekanisme penilaian yang lebih mutakhir dan menyesuaikan perkembangan industri manufaktur nasional.

Kris optimistis pembaruan metode penghitungan akan memberikan nilai TKDN yang lebih tinggi bagi produk-produk Isuzu ketika proses sertifikasi diperbarui.

“Saya yakin ketika nanti dihitung menggunakan regulasi terbaru dan beberapa sertifikat diperbarui, nilainya bisa lebih tinggi dari 62 persen,” katanya.

Peningkatan nilai TKDN itu dinilai akan semakin memperkuat posisi Isuzu sebagai produsen kendaraan komersial yang mengandalkan komponen lokal dalam proses produksinya.

Penggunaan Komponen Lokal Perkuat Industri Pemasok Nasional

Meningkatnya kandungan lokal pada kendaraan tidak hanya memberikan manfaat bagi produsen utama, tetapi juga berdampak langsung terhadap pertumbuhan industri pendukung.

Setiap kenaikan nilai TKDN membuka peluang lebih besar bagi perusahaan pemasok komponen lokal untuk menjadi bagian dari rantai produksi otomotif. Industri baja, logam, plastik, karet, elektronik, hingga komponen mesin memperoleh kesempatan lebih luas untuk memasok kebutuhan manufaktur kendaraan.

Melalui kolaborasi tersebut, nilai tambah yang dihasilkan industri otomotif tidak hanya dinikmati oleh satu perusahaan, tetapi juga tersebar ke berbagai sektor manufaktur nasional.

Kondisi ini turut menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kemampuan teknologi industri lokal, dan memperkuat daya saing Indonesia sebagai basis produksi kendaraan di kawasan Asia Tenggara.

Isuzu Karawang Plant Capai Produksi 300.000 Unit dalam 10 Tahun

Pengakuan atas pencapaian TKDN diberikan bersamaan dengan perayaan produksi ke-300.000 unit Isuzu Karawang Plant.

Pabrik yang mulai beroperasi pada 2015 tersebut dibangun sebagai fasilitas produksi modern untuk memenuhi kebutuhan kendaraan komersial di Indonesia maupun pasar ekspor.

Dalam waktu satu dekade, fasilitas tersebut berhasil memproduksi ratusan ribu unit kendaraan yang digunakan di berbagai sektor, mulai dari logistik, distribusi barang, pertambangan, perkebunan, konstruksi, hingga transportasi.

Keberhasilan mencapai angka produksi tersebut menunjukkan stabilitas permintaan kendaraan komersial Isuzu sekaligus efektivitas sistem manufaktur yang diterapkan perusahaan.

Produksi Isuzu Traga Mendominasi Pabrik Karawang

Saat ini Isuzu Karawang Plant memproduksi tiga model kendaraan komersial utama, yaitu Isuzu ELF, Isuzu GIGA, dan Isuzu Traga.

Di antara ketiganya, Isuzu Traga menjadi model dengan volume produksi terbesar. Kendaraan niaga ringan tersebut banyak digunakan oleh pelaku usaha kecil dan menengah maupun perusahaan logistik karena menawarkan kapasitas angkut yang kompetitif.

Selain kendaraan bermerek Isuzu, fasilitas tersebut juga memproduksi kendaraan UD Trucks, yaitu UD Quester dan UD Kuzer, untuk memenuhi kebutuhan pasar kendaraan niaga berat di Indonesia.

Produksi berbagai model dalam satu fasilitas menunjukkan fleksibilitas manufaktur Isuzu dalam melayani segmen kendaraan komersial yang beragam.

Menjadi Basis Ekspor Kendaraan Komersial ke 25 Negara

Peran Isuzu Karawang Plant tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan pasar domestik. Sejak 2019, pabrik tersebut juga ditetapkan sebagai pusat produksi kendaraan komersial untuk pasar ekspor.

Hingga saat ini, kendaraan yang diproduksi di Karawang telah dikirim ke 25 negara. Beberapa tujuan ekspor meliputi Jepang, Filipina, Afrika Selatan, Panama, serta sejumlah negara lain di kawasan Asia, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika.

Baca Jugan “Sepeda listrik baru VW dilengkapi radar, kacamata ala pilot tempur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *